Aneh, tak biasanya aku begini. Diam. Bisu. Lidahku terlalu kelu untuk melafazkan kata-kata. Aku belum terbiasa dengan keadaan seperti ini. Hei ! bahkan jariku terhenti sejenak diatas tombol-tombol keyboard, catatanku pun ikut terhenti, cuma layar computer saja yang masih setia bercahaya menatapku tanpa komentar apa-apa.
Ide dimana kamu, otakku mulai gemuk jarang olahraga. Jalannya semakin lambat…parah!. Ooh beku…otakku seperti tersimpan di freezer selama 5 hari. Terlihat tampak segar…dan kau tertipu kawan, ia cuma kumpulan sel yang rusak dan membusuk. Coba kau keluarkan dari kotak Freon sialan itu dan beberapa jam kemudian kau akan tahu betapa ucapanku itu benar.
Apa kamu tahu sekejap tadi adalah waktu dimana aku benar-benar marah, risau, bingung, jengah, atau kata yang paling tepat dan populer saat ini adalah, “galau”. Dan sejatinya galau adalah sampah yang harus dibuang pada tempatnya. Jejaring sosial adalah tempat sampah yang paling laris saat ini. Kamu bisa mendapatkannya mulai dari aplikasi hape kelas rendah berfitur sederhana dengan layanan GPRS seadanya atau dengan jaringan high class pra/pasca bayar dilayar computer. Dan hampir semua pasti tahu jejaring sosial yang paling banyak diminati kaum ningratpolitan sampe kaum ndeso. Dari pejabat, artis, anak-anak sekolah sampe tukang becak pun tahu dan punya akun sebagai bukti penghuni jejaring sosial bernama Facebook.
Fenomena itu bagai virus, wabah, yupss…bisa juga dibilang trend. Trend? Yes, I like trend…dan aku tentu tak mau dibilang gaptek , generasi usang…no no no! Facebook bagai zombie, mereka masuk keotak…mempengaruhi pikiran terbuasmu,menunjukkan ketaksadaranmu, lapar pada apapun yang ada didalamnya, dan kau sudah dimantrai seperti voodoo “I am Facebook, try it, like it, and you never stop it….”.
Seram juga ya…hehe, mungkin terlalu sentimentil saya menilai facebook, wajar aja ya teman-teman, aku lagi galau. Tulisanku belum kelar-kelar. Sementara deadline mengejar bak mafia Kolombia memburu partner bisnisnya yang berkhianat. Mungkin benar kata sahabat saya, sesekali boleh kau muntahkan segala unek-unekmu di facebook. Yeah…aku sedang memuntahkannya sekarang, dan kau tahu ini muntahan yang paling banyak dari yang pernah aku bayangkan.
Beberapa menit kemudian, aku seperti terlahir kembali bagai bayi Hercules yang yang mencengkram puncak Athena, otakku mencair, mengalir bagai air terjun niagara. Tubuhku lega, sisa muntahan tadi masih tersisa di wall akun facebookku. Sepertinya aku dapat melanjutkan tulisanku yang tertunda, facebookkan disela deadline cukup membantu.Terima kasih teman-teman yang sudi membaca. Terima kasih facebook. Aku log out dulu ya!!!!
( dari catatan pesbuk ku, add ya : ARIF SETIAWAN )
( dari catatan pesbuk ku, add ya : ARIF SETIAWAN )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar